Kadang kita tidak sadar bahwa anak tumbuh begitu cepat.
Tiba-tiba bajunya sudah kekecilan.
Sepatunya sudah tidak muat.
Suaranya berubah.
Cara bicaranya berubah.
Dan perlahan...
cara dia melihat dunia juga berubah.
Kadang kita tidak sadar bahwa anak tumbuh begitu cepat.
Tiba-tiba bajunya sudah kekecilan.
Sepatunya sudah tidak muat.
Suaranya berubah.
Cara bicaranya berubah.
Dan perlahan...
cara dia melihat dunia juga berubah.
Ada satu penyakit tidak tertulis yang sering dialami working mom.
Namanya:
“Aku harus bisa semuanya.”
Harus profesional di kantor.
Harus menjadi ibu yang perhatian.
Harus menjadi pasangan yang baik.
Harus punya rumah yang rapi.
Harus bisa mengurus anak.
Harus tetap punya waktu untuk keluarga.
Harus menjaga penampilan.
Harus sehat.
Harus produktif.
Dan kalau masih punya waktu...
mungkin harus punya waktu untuk diri sendiri juga.
Masalahnya, waktu dua puluh empat jam sehari tetap saja cuma dua puluh empat jam.
Kita bisa mengatur jadwal.
Bisa membuat to-do list.
Bisa menggunakan aplikasi.
Tapi kita tidak bisa menambahkan dua puluh empat jam lagi ke dalam sehari.
Lalu kenapa working mom sering merasa harus bisa semuanya?
Sejak menjadi ibu, banyak perempuan otomatis mengambil peran sebagai pusat koordinasi keluarga.
Anak butuh apa?
Kita tahu.
Jadwal sekolah kapan?
Kita ingat.
Ada acara keluarga?
Kita pikirkan.
Stok kebutuhan rumah habis?
Kita yang sadar duluan.
Bahkan kadang suami bertanya,
“Besok anak ada kegiatan apa?”
Dan kita bisa menjawab lengkap dengan jam, lokasi, pakaian, sampai barang yang harus dibawa.
Padahal...
kok semua informasi keluarga kayaknya tersimpan di kepala ibu?
Belum selesai urusan rumah, pekerjaan kantor juga menunggu.
Ada email.
Ada meeting.
Ada deadline.
Ada target.
Ada masalah yang harus diselesaikan.
Dan somehow kita tetap merasa harus memberikan performa terbaik di semuanya.
Yang menarik, working mom sering kali tidak kesulitan melakukan banyak hal.
Yang sulit justru berhenti.
Saat ada waktu kosong, kita merasa harus mengisinya.
Kalau anak tidur, kita membereskan rumah.
Kalau weekend, kita mencuci.
Kalau sedang tidak ada pekerjaan kantor, kita menyelesaikan pekerjaan domestik.
Kalau akhirnya duduk dan tidak melakukan apa-apa...
mulai merasa bersalah.
“Harusnya aku melakukan sesuatu.”
Padahal tubuh sedang bilang:
“Aku cuma ingin istirahat.”
Kita perlu memahami bahwa istirahat bukan kemalasan.
Istirahat adalah kebutuhan.
Karena seorang ibu yang terus dipaksa berfungsi tanpa jeda bukan menjadi lebih hebat.
Dia hanya semakin dekat dengan titik kelelahan.
Mungkin sudah waktunya working mom berhenti menganggap meminta bantuan sebagai tanda ketidakmampuan.
Rumah bukan tanggung jawab satu orang.
Mengurus anak bukan tugas satu orang.
Dan menjaga keluarga bukan berarti seorang ibu harus kehilangan dirinya sendiri.
Kalau bisa dibagi, ya dibagi.
Kalau bisa didelegasikan, ya delegasikan.
Kalau ada sesuatu yang sebenarnya tidak harus dilakukan hari ini, mungkin memang bisa ditunda.
Karena tidak semua hal harus selesai sekarang juga.
Kadang rumah sedikit berantakan tidak akan menghancurkan dunia.
Makan malam sederhana juga tetap makan malam.
Laundry menumpuk sehari bukan kiamat.
Dan anak tidak membutuhkan ibu yang sempurna.
Anak membutuhkan ibu yang hadir.
Ada satu hal yang sering terlupakan.
Sebelum menjadi ibu, kita adalah seorang perempuan.
Punya kesukaan.
Punya mimpi.
Punya teman.
Punya waktu sendiri.
Punya hal-hal yang membuat kita bahagia.
Menjadi ibu tidak berarti semua itu harus hilang.
Menjadi working mom juga bukan berarti hidup kita hanya terdiri dari pekerjaan dan keluarga.
Kita boleh punya waktu untuk minum kopi sendirian.
Boleh jalan dengan teman.
Boleh membaca buku.
Boleh menonton drama sampai malam.
Boleh punya hobi.
Boleh melakukan sesuatu hanya karena kita menyukainya.
Tanpa harus mencari alasan produktif di baliknya.
Karena tidak semua yang kita lakukan harus punya manfaat untuk orang lain.
Ada hal-hal yang boleh dilakukan hanya karena kita menikmatinya.
Mungkin sudah waktunya mengganti kalimat:
“Aku harus bisa semuanya.”
Menjadi:
“Aku akan melakukan yang memang penting, dan aku akan meminta bantuan untuk sisanya.”
Karena menjadi working mom bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling kuat.
Kita tidak mendapatkan medali karena paling banyak mengorbankan diri.
Dan anak-anak kita juga tidak membutuhkan ibu yang kehabisan tenaga demi memastikan semuanya sempurna.
Mereka hanya membutuhkan ibu yang masih punya energi untuk memeluk mereka.
Untuk mendengarkan cerita mereka.
Untuk tertawa bersama.
Untuk hadir.
Jadi kalau hari ini kamu merasa tidak sanggup mengurus semuanya...
mungkin masalahnya bukan kamu kurang hebat.
Mungkin memang terlalu banyak yang selama ini kamu pikul sendirian.
Dan kamu tidak harus terus begitu.
Kalau ada satu hal yang saya suka dari perjalanan ke berbagai kota di Indonesia, itu adalah menemukan bahwa setiap daerah punya “cara sendiri” untuk bercerita.
Ada daerah yang bercerita melalui bangunan tua.
Ada yang melalui kain tradisional.
Ada yang melalui makanan.
Dan Banyuwangi punya cara yang sangat cantik: melalui tari, musik, tradisi, dan makanan yang penuh karakter.
Banyuwangi berada di ujung timur Pulau Jawa dan dikenal sebagai salah satu daerah dengan kekayaan budaya yang sangat kuat.
Salah satu ikon budayanya adalah Tari Gandrung.
Dan dari sinilah cerita budaya Banyuwangi menjadi semakin menarik.
Ada banyak hal yang dulu rasanya penting sekali.
Sampai-sampai kita rela capek, kehilangan waktu tidur, menahan kecewa, bahkan membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain hanya untuk mendapatkannya.
Ada cerita yang ternyata butuh waktu untuk dituliskan.
Bukan karena aku lupa, justru karena masih terlalu banyak rasa yang tertinggal setelah semuanya selesai.
Kurang lebih sebulan setelah anakku akhirnya diterima di SMA Negeri Unggulan di Jakarta melalui Jalur Domisili SPMB 2026, barulah aku merasa cukup tenang untuk menuliskan perjalanan ini.
Ada kalanya tubuh memberi kita peringatan dengan cara yang tidak bisa diabaikan.
Bukan lewat reminder.
Bukan lewat notifikasi.
Bukan lewat kalender yang penuh.
Tapi lewat satu kondisi yang membuat kita akhirnya berhenti sejenak dan berpikir,
“Oke... mungkin sudah waktunya aku lebih memperhatikan diri sendiri.”
Dulu aku pikir, kalau ada orang yang salah memahami kita, berarti kita harus menjelaskan.
Kalau ada yang salah menilai, kita harus meluruskan.
Kalau ada yang menganggap kita begini padahal kenyataannya begitu, kita merasa perlu memberikan penjelasan panjang lebar.
Karena rasanya tidak nyaman ketika orang lain punya cerita tentang kita yang tidak sesuai kenyataan.
Apalagi kalau kita tahu bahwa cerita itu tidak benar.
Ada satu kalimat yang menurutku sering banget dialami working mom:
“Aku capek.”
Tapi setelah mengucapkannya, entah kenapa kita langsung merasa bersalah.