Ada satu fase dalam kehidupan seorang ibu yang mungkin paling sulit diterima:
anak kita akan tumbuh besar.
Ada satu fase dalam kehidupan seorang ibu yang mungkin paling sulit diterima:
anak kita akan tumbuh besar.
Ada satu hal yang baru benar-benar aku pahami setelah menjadi working mom:
Pulang kantor ternyata bukan berarti selesai bekerja.
Kadang justru itu tanda bahwa shift kedua akan segera dimulai.
Jam kerja di kantor mungkin secara resmi selesai pukul lima sore.
Tapi setelah itu?
Masih ada kehidupan lain yang menunggu.
Ada kota yang kita ingat karena tempat wisatanya.
Ada yang kita ingat karena makanannya.
Dan ada juga kota yang justru membuat kita ingat pada sebuah budaya.
Buat saya, Pekanbaru punya cerita yang sangat kuat tentang budaya Melayu.
Salah satu yang menarik perhatian saya adalah songket Riau.
Pernah nggak sih, ketika kita bilang, “Aku capek,” kita malah buru-buru merasa bersalah?
Seolah-olah setelah mengeluh tentang lelah, kita harus segera menambahkan kalimat pembelaan.
“Aku sebenarnya bersyukur kok.”
“Masih banyak orang yang hidupnya lebih susah.”
“Aku tahu ini rezeki.”
“Aku cuma lagi capek aja.”
Ada beberapa pertanyaan dalam hidup yang mungkin tidak pernah mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan.
“Kenapa harus aku?”
“Kenapa dia pergi?”
“Kenapa sesuatu yang sudah aku perjuangkan tidak berhasil?”
“Kenapa orang yang kita percaya justru mengecewakan?”
“Kenapa hidup harus berjalan seperti ini?”
Pernah nggak sih kita melihat sebuah postingan, membaca sebuah quote, atau mendengar seseorang mengatakan sesuatu, lalu tiba-tiba merasa...
“Ini pasti tentang aku.”
Padahal belum tentu.
Kalau ada kota yang membuat saya berpikir bahwa Indonesia memang dibangun dari banyak pertemuan, salah satunya adalah Semarang.
Pertemuan manusia.
Pertemuan budaya.
Pertemuan sejarah.
Dan tentu saja... pertemuan rasa.
Karena kalau bicara Semarang, selain Lawang Sewu dan Kota Lama, rasanya kurang lengkap kalau tidak membicarakan lumpia Semarang.
Makanan yang satu ini justru menjadi contoh menarik bagaimana sebuah kuliner bisa lahir dari pertemuan budaya yang berbeda.
Ada satu fase dalam hidup ketika kita mulai lelah berusaha membuat semua orang menyukai kita.
Dulu rasanya penting sekali.
Kalau ada yang tidak suka, kita kepikiran.
Kalau ada yang salah paham, kita ingin menjelaskan.
Kalau ada yang kecewa, kita merasa bersalah.