Ada banyak hal yang dulu rasanya penting sekali.
Sampai-sampai kita rela capek, kehilangan waktu tidur, menahan kecewa, bahkan membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain hanya untuk mendapatkannya.
Ada banyak hal yang dulu rasanya penting sekali.
Sampai-sampai kita rela capek, kehilangan waktu tidur, menahan kecewa, bahkan membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain hanya untuk mendapatkannya.
Ada cerita yang ternyata butuh waktu untuk dituliskan.
Bukan karena aku lupa, justru karena masih terlalu banyak rasa yang tertinggal setelah semuanya selesai.
Kurang lebih sebulan setelah anakku akhirnya diterima di SMA Negeri Unggulan di Jakarta melalui Jalur Domisili SPMB 2026, barulah aku merasa cukup tenang untuk menuliskan perjalanan ini.
Ada kalanya tubuh memberi kita peringatan dengan cara yang tidak bisa diabaikan.
Bukan lewat reminder.
Bukan lewat notifikasi.
Bukan lewat kalender yang penuh.
Tapi lewat satu kondisi yang membuat kita akhirnya berhenti sejenak dan berpikir,
“Oke... mungkin sudah waktunya aku lebih memperhatikan diri sendiri.”
Dulu aku pikir, kalau ada orang yang salah memahami kita, berarti kita harus menjelaskan.
Kalau ada yang salah menilai, kita harus meluruskan.
Kalau ada yang menganggap kita begini padahal kenyataannya begitu, kita merasa perlu memberikan penjelasan panjang lebar.
Karena rasanya tidak nyaman ketika orang lain punya cerita tentang kita yang tidak sesuai kenyataan.
Apalagi kalau kita tahu bahwa cerita itu tidak benar.
Ada satu kalimat yang menurutku sering banget dialami working mom:
“Aku capek.”
Tapi setelah mengucapkannya, entah kenapa kita langsung merasa bersalah.
Ada satu fase dalam perjalanan menjadi ibu yang diam-diam cukup bikin hati campur aduk.
Ketika anak mulai besar.
Bukan lagi anak kecil yang setiap pergi harus digandeng tangannya.
Bukan lagi anak yang setiap beberapa menit bertanya, “Mama di mana?”
Sekarang dia mulai punya dunia sendiri.
Dulu, rasanya hidup harus selalu punya target.
Harus ada yang dikejar. Harus ada yang dicapai. Harus ada sesuatu yang bisa dibanggakan.
Jujur ya...
Menjadi orang dewasa ternyata bukan soal kuat atau nggaknya kita menghadapi hidup.
Tapi soal... seberapa pintar kita merawat diri, supaya tetap bisa menjalankan semua peran yang kita punya.