Jujur ya...
Menjadi orang dewasa ternyata bukan soal kuat atau nggaknya kita menghadapi hidup.
Tapi soal... seberapa pintar kita merawat diri, supaya tetap bisa menjalankan semua peran yang kita punya.
Jujur ya...
Menjadi orang dewasa ternyata bukan soal kuat atau nggaknya kita menghadapi hidup.
Tapi soal... seberapa pintar kita merawat diri, supaya tetap bisa menjalankan semua peran yang kita punya.
Sering kali kita fokus pada niat baik, tetapi lupa bahwa orang lain merasakan dampak dari tindakan kita. Yuk belajar tentang adab, empati, dan kedewasaan dalam menyikapi konflik melalui refleksi sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Aku pernah ada di fase ketika memilih diam, bukan karena nggak punya cerita. Justru karena terlalu sering merasa percuma bercerita. Setiap kali mencoba membuka hati, jawabannya hampir selalu sama. "Jangan lebay." "Udah, nanti juga lewat." Lama-lama aku berhenti berharap orang lain mengerti. Aku mulai meyakinkan diri kalau menyimpan semuanya sendiri mungkin memang lebih mudah. Padahal, yang sebenarnya terjadi bukan aku baik-baik saja. Aku hanya lelah merasa tidak dianggap.
Dulu, kalau ada yang bertanya tentang diriku, aku bisa menjawab dengan mudah.
Aku suka menulis.
Aku suka menghabiskan waktu di kedai kopi sambil membawa laptop atau buku.
Aku suka berjalan tanpa tujuan, hanya untuk menikmati sore.
Aku juga suka bermimpi. Tentang banyak hal yang ingin kulakukan suatu hari nanti.
Hari itu akhirnya datang juga.
Sabtu.
Hari yang selama ini selalu kutunggu karena berpikir, "Akhirnya bisa istirahat."
Tapi lucunya, ketika hari itu benar-benar tiba, aku justru tidak benar-benar beristirahat.
Pagi dimulai dengan mencuci baju, menyiapkan sarapan, merapikan rumah, mengecek pekerjaan yang masih tertunda, membalas beberapa pesan WhatsApp, lalu memastikan semua kebutuhan keluarga sudah terpenuhi.
Burnout bukan sekadar rasa lelah biasa. Simak pengalaman aku sebagai working mom mengenali tanda-tanda burnout, penyebabnya, dan cara perlahan bangkit tanpa menyalahkan diri sendiri.
Jujur ya, dulu aku termasuk orang yang kalau beli mesin cuci cuma lihat dua hal: kapasitas dan harga. Pokoknya yang penting muat banyak dan sesuai budget. Sampai akhirnya tagihan listrik di rumah mulai terasa naik, baru deh kepikiran, jangan-jangan selama ini aku salah pilih mesin cuci. Dari situ aku baru sadar kalau teknologi yang digunakan ternyata jauh lebih berpengaruh dibanding sekadar besar kecilnya kapasitas.
"Jangan beli yang murah kalau ujung-ujungnya tagihan listrik malah bikin pusing."
Kalau ada yang bertanya, "Capek nggak jadi working mom?"
Jawabannya? Capek.
Bahkan capeknya sering kali nggak bisa dijelaskan pakai kata-kata.